Kadipaten Arenan

Kadipaten Arenan

Sulit sekali menggali sejarah Desa Arenan, dari beberapa sumber artikel dan buku sejarah serta cerita orang tua di dapati sejarah yang berbeda versi, saya akan uraikan sebagai berikut :

  1. Asal Usul Nama Desa Arenan

Nama Desa Arenan menurut beberapa cerita berasal dari kata Arengan, mungkin karena turun temurun yang berabad abad kata Arengan berubah menjadi Arenan, jika kita tilik versi “kayane” jika arenan di kaitkan dengan kumpulan pohon arena, namun kita ketahu di arenan jarang sekali di temukan pohon aren, yang lebih masuk akal adalah dari kata Arengan yang ceritanya konon di desa arenan pernah terjadi kejadian pembakaran penjahat hingga menjadi areng, tempatnya di dukuh sambeng di sebelah barat SD negeri 1 Arenan, karena peristiwa tersebut konon siapaun yang masuk ke wilayah desa arenan akan kehilangan ilmu kesaktiannya. demikian sekilas asal usul nama desa Arenan, semoga bermanffat dan jika ada kesalahan harap maklum

  1. Adipati Kadipaten Arenan

Tidak ada yang tahu kapan Kadipaten Arenan berdiri, dalam buku sejarah atau artikel lain tidak di temukan, namun ada yang bercerita bahwa pada tahun 1218 telah wafat orang kepercayaan Adipati Arenan yaitu ki adeg ulung, ki adeg ulung mengabdi di kadipaten arenan sebagai panglima perang, yang asalnya dari daerah parihyangan bandung menyelusuri pantai selatan, pernah tinggal di jogya, ke magelang dan akhirnya ke barat menuju Kadipaten Arenan, menurut cerita ki adeg ulung juga mempunyai saudara yaitu ki lanang jagad yang di makamkan di hutan jati rawalo banyumas, kita kembali ke adipati arenan, setelah di cari dari beberapa sumber di temukan nama adipati arenan yaitu : Singa Braja, Adi Wiguna, Adi Ningrum, Singayuda/Kerta Bangsa, Setelah di gali cuma di dapatkan sejarah tentang Adipati Singayuda, yang merupakan anak dari Syeh Makdum Wali Prakosa (Pekiringan), Cucu dari syeh Maqdum Husein (Karang Moncol) Buyut dari Syeh Maqdum Jamil (karang moncol) Bao dari Syeh Natas Angin/Syeh wali Rahmat/ Syeh Magrobi (Persia)

  1. Kisah Ikan/Iwak Tambra

Disini akan kami tuliskan sejarah ikan/iwak tambra versi 2, versi sebelumya sudah di tulis di page sejarah arenan, versi ini hampir sama namun berbeda sudut pandang yaitu :

Semasa pemerintahan Adipati Singayuda, daerah Kadipaten Arenan (Sekarang Kec.  Kaligondang) pernah mengalami gangguan keamanan yang membuat ketakutan, kegelisahan, kemarahan dan kebencian dikalangan masyarakat. karena adanya perebutan kekuasaan untuk menempati kedudukan menjadi Adipati Arenan menggantikan Adipati Singayuda, perselisihan itu antara Putra kandung adipati singayuda dan putra mantu yaitu adipati onje.

Pretimasa terkenal sebagai seorang  yang sakti mandraguna, sehingga tak seorang pun diantara tentara dari addipati onje berani melawannya. Kesaktiannya pernah dibuktikan, pada suatu hari ia ditangkap secara beramai-ramai oleh tentara onje kemudian dibunuh dan mayatnya dipotong-potong. Tetapi apa yang terjadi? Pretimasa ternyata hidup kembali, setelah potongan-potongan mayatnya dimasukan ke dalam liang kubur. Sungguh sangat menakutkan. Malah secara membabi buta, Pretimasa terus mengamuk yang menimbulkan lebih banyak korban baik dikalangan tentara kadipaten onje.

Peristiwa ini telah menimbulkan kemarahan adipati onje  Dikerahkan lagi semua tentara onje untuk menangkap dan membinasakan penjahat itu. Melihat keadaan kurang baik, Pejuang Adipati Arenan itu teraksa melarikan diri bersembunyi kedalam sebuah batu yang dikenal dengan “Watu Wedus”. Barulah disini ia merasakan dirinya aman, karena tak seorangpun berani memburunya.

Setelah lama para tentara onje berjaga disekitar batu itu kemudian seorang diantara mereka ada yang menemukan siasat. Untuk menangkap Pretimasa tak ada jalan lain kecuali minta bantuan kepada Nyai Adipati (Isteri Adipati Onje).

Karena dimintai pertolongan, segera Nai Adipati datang mendekati pintu wedus tersebut, membawa nasi bersama lauknya yaitu pindang ikan tambara yang menjadi kegemaran Pretimasa.

Dengan tutur kata yan lemah lembut sebagai tipu muslihat, Nyai Adipati memanggil Saudara kandungnya yang sedang bersembuni didalam watu wedus itu. Semula tidak mau memenuhi panggilan itu, tetapi sesudah diberi tahu bahwa disekitar batu tersebut tak ada seorangpun, maka Pretimasa segera keluar dari tempat persembunyiannya. Kedua orang bersaudara itu terus saling berpelukan sebagai pelepas rasa rindu.

Terdorong oleh rasa letih dan lapar, segera Pretimasamemakan kiriman nasi bersama pindang ikan tambara dengan lahapnya. Namun sama sekali ia tidak menduga, bahwa ratusan pasang mata sedang mengintai dari balik gerumbulan disekitarnya. Begitulah tatkala Pretimasa tengah menikmati nasi dengan pindang ikan tambaranya, tiba-tiba ratusan orang tentara onje secara serempak menubruknya. Melihat keadaan berbahaya ini, Pretimasa berusaha menyelamatkan diri masuk kedalam watu wedus kembali. Tetapi ia gagal, karena lubang watu wedus tertutp diduduki oleh Nyai Adipati. Akhirnya secara ramai-ramai Pejuang Kadipaten Arenan itu dihajar tentara onje.

Sesaat sebelum menemui ajalnya, Pretimasa sempat member pesan (pepali), bahwa karena tidak tahu saudara, maka orang-orang Arenan dikelak kemudian dari keturunannya pada saanya mempunyai cacad “rimang” (penglihatannya kuran jelas). Selain itu orang-orang Arenan yang bertempat tinggal di sebelah barat dan timur kali, dilarang makan pindang ikan tambara. Kalau pesan ini dilanggar menurut Pretimasa, pasti bisa mendatangkan malapetaka. Salah-salah bisa mati, pesan tersebut memang hingga sekarang masih menjadi kepercayaan turun temurun di sementara penduduk desa Arenan. Apakah selamanya pesan itu akan ditaati?

Akhirnya mayat Pretimasa kembali dipotong-potong dan masing-masing potongan dikubur diberbagai tempat secara terpisah. Diantaranya ada yang dikubur di Arcatapa, Pagedongan, Siwedus, Setana Wangi dan dipekuburan Makam dawa.

cerita ini menjadi pertimbangan mengapa Adipati Singayuda makamnya di Desa Onje bukan di Arenan karena pada peristiwa diatas Adipati Singayuda menjadi tawanan di adipati Onje hingga wafat, sekarang kita mempercayai pertimasa itu penjahat, apakah itu benar atau malah pertimasa yang ingin menjaga keutuhan adipati arenan, setelah peristiwa itu sejarah arenan lenyap, warga arenan hanya tau sejarah hingga eyang ardanom dan R. Wangsadirana dari kasultanan Demak Bintoro

  1. Kisah Ki Adeg Ulung

Ki adeg ulung

Ki adeg ulung atau yang sering di sebut oleh masyarakat desa arenan dengan sebutan kyai adeg, ada beberapa versi cerita tentang ki adeg ulung kenapa di namai ki adeg/ kyai adeg :

1. Versi pertama adalah : Konon desa arenan di jaman dulu terjadi wabah penyakit yang mematikan, yang tiap harinya masyarakat desa arenan ada yang meninggal, hingga ki adeg bersedia menjadi tumbal agar wabah penyakit tersebut berhenti yaitu dengan cara di kubur hidup hidup secara berdiri ( dalam bahasa jawa berdiri = adeg) jadi namanya ki adeg

2. versi kedua adalah : karena kesaktian ki adeg hingga ratu pantai selatan nyai roro kidul terpikat pada ki adeg, namun karena perbedaan alam ki adeg tidak merespon nyai roro kidul hingga terjadi adu kesaktian, namun ki adeg kalah dalam pertarungan tersebut, karena merasa belum sakti ki adeg bertapa di bawah pohon laban di dekat sawah secara berdiri di galian tanah selama 40 hari tidak makan tidak minum, namun belum selesai 40 hari ki adeg meninggal, karena tapa secara berdiri tersebut di namai ki adeg

ki adeg di makamkan di komplek cilwek desa arenan kecamatan kaligondang, ki adeg adalah pendatang dari pejajaran, ki adeg mempunyai saudara yang bernama ki lanang jagat, yang di makamkan di hutan jati rawalo banyumas

Kutukan Ki Adeg Ulung

Kutukan ini mungkin berbunyi ” Sadurunge ana sing lewih pinter saka aku (ki adeg ulung) maka desa arenan anget anget tahi ayam” yang di dapat di artikan bahwa sebelum ada yang lebih pintar dari ki adeg ulung maka kehidupan desa arenan akan biasa biasa saja, masyarakat desa arenan rejekinya pas pasan, yang lebih kelihatan adalah ketika terjadi atau mengadakan sesuatu makan cuma bertahan sebentar, mungkin ini arti dari anget anget tahi ayam, contoh dalam kepemudaan dengan serentak pemuda bisa berkumpul menjadi satu membentuk karang taruna namun setelah beberapa waktu langsung vakum, ya mungkin arti dari lebih pintar dari ki adeg adalah arti kiasan, bisa saja artinya lebih taat dalam agama, tidak sombong, tawasul ke leluhur desa yang selama ini masyarakat desa arenan kurang tahu siapa pendiri dan leluhur desa arenan

Iklan
Iklan